Category: Kumpulan Doa


Berdoa dan Bekerja


Mana yang lebih penting; berdoa atau bekerja? Ada yang berkata bahwa berdoa lebih penting, sebab tanpa berdoa kita tidak bisa melakukan apa-apa. Namun ada juga yang mempertanyakan, buat apa banyak berdoa, tetapi tidak bekerja?

Bagi Nehemia, kedua hal ini tak perlu diadu tingkat kepentingannya. Mari simak apa yang ia lakukan. Saat menghadapi tantangan dan ancaman dari Sanbalat dan Tobia, Nehemia menaikkan doa kepada Tuhan agar rencana musuhnya digagalkan. Namun, Nehemia juga menyuruh orang-orangnya agar tetap berjaga-jaga supaya dapat mengantisipasi bila sewaktu-waktu ada serangan musuh (ayat 9).

Dari Nehemia kita belajar bahwa doa adalah hal yang sangat penting, tetapi bekerja juga hal yang tidak kalah penting. Dalam film Facing The Giants, seorang pendeta bertutur kepada sang pelatih futbol tentang dua petani yang sama-sama berdoa meminta hujan kepada Tuhan. Petani yang pertama hanya berdoa, tetapi ia tidak mempersiapkan ladangnya untuk menerima hujan. Sedangkan petani yang kedua bukan hanya berdoa, tetapi juga mempersiapkan ladangnya. Jika kemudian Tuhan memilih; kepada petani mana Tuhan akan menurunkan hujan? Tentu yang kedua, karena dengan mempersiapkan ladang, ia beriman bahwa doanya akan dikabulkan.

Ketika menghadapi rintangan dalam hidup ini, mari kita datang kepada Tuhan. Sampaikan segala keluh kesah kita kepada-Nya, dan percayalah bahwa Tuhan pasti akan menolong. Namun sementara itu, kita pun harus waspada dan memikirkan cara terbaik untuk mengatasi masalah tersebut. Tak hanya berdoa, kita harus bekerja juga -RY

Iklan

Dalam sebuah pengadilan, peran seorang advokat atau pengacara sangat penting. Pembelaannya di depan hakim akan menentukan nasib sang terdakwa. Bayangkanlah cerita Alkitab hari ini dengan situasi sebuah pengadilan. Kota Sodom dan Gomora duduk di kursi terdakwa; Allah sebagai Hakim; jaksa penuntut diperankan oleh banyak orang yang berkeluh-kesah tentang kedua kota itu; dan Abraham tampil membela pihak tertuduh dengan argumentasinya yang gigih.

Dengan “keberanian” yang mengagumkan, Abraham melakukan “tawar-menawar” dengan Tuhan tentang jadi atau tidaknya Dia menjatuhkan hukuman atas Sodom dan Gomora. “Kesepakatan” antara Tuhan dengan Abraham akhirnya diperoleh. Hukuman terhadap Sodom dan Gomora tetap dilaksanakan. Namun, perhatikanlah bahwa Allah menyatakan kemurahan-Nya kepada orang-orang yang percaya kepada-Nya. Dan, Allah pun menjalankan misi penyelamatan atas Lot dan keluarganya. Mengapa? Karena Dia “ingat kepada Abraham”! Peristiwa ini sungguh menggetarkan hati. Allah mengingat Lot karena doa yang dinaikkan Abraham.

Sebuah lagu pop rohani berkata: “Bila kau rasa sepi dan hatimu pun sedih, ingatlah seorang mendoakanmu.” Doa syafaat adalah seruan permohonan kepada Tuhan atas nama pihak lain. Tuhan memedulikan doa semacam ini. Abraham berseru kepada Tuhan atas nama Lot, dan Lot pun diselamatkan. Tuhan ingat seruan Abraham. Kita pasti pernah, atau bahkan sedang diberkati karena seseorang mendoakan kita. Namun, sebaliknya, biarlah ada seseorang yang juga diberkati karena Allah ingat akan doa-doa kita untuknya -PAD


“Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!” (Mazmur 118:24)

Tuhan, hari ini adalah milik-Mu. Buatlah hatiku melekat pada-Mu hari ini. Bebaskanku dari pikiran-pikiran, urusan-urusan, dan kekuatiran duniawi. Angkatku ke suasana ilahi yang penuh dengan iman, percaya, dan harapan. Kiranya damai sejahtera-Mu melingkupiku dan memenuhi pikiranku.

Biarlah perhatianku minggu lalu, kemarin, dan besok kutanggalkan karena hari ini aku memilih untuk menyendiri bersama-Mu. Ketika aku menelusuri sungai, duduk di atas gelondongan kayu yang berlumut di padang rumput, atau merenungkan kebesaran-Mu dari tebing jurang di lereng gunung, Engkau terasa dekat. Biarlah pelataran bait-Mu bersabda kepadaku, meneduhkanku.

Ketika aku mencoba menanamkan pemulihan-Mu atas jiwaku kepada orang yang sakit atau berkecil hati, lingkupi mereka dengan kasih-Mu.

Terima kasih Tuhan untuk hari ini.


“Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati.” (Yesaya 40:11, TB)

Hari yang panjang dan semuanya sudah dirapikan. Minuman terakhir, ciuman terakhir. “Ibu, peluk aku lagi!” terdengar suara kecil memanggil. Ketika Anda sudah selesai mencuci piring dan memunguti mainan, Anda merenungkan kembali hari itu ….

Apakah aku melakukan hal yang benar, apakah aku memberikan waktu yang cukup untuk menyayangi mereka, memola, dan membentuk pikiran mereka? Apakah aku memberitahu mereka apa yang benar, tetapi kemudian melakukan yang salah? Apakah hidupku tidak sesuai dengan apa yang kukatakan?

Kasihilah anak-anakku, ya, Tuhan, seperti Engkau mengasihiku. Aku selalu bisa menghampiri-Mu tanpa syarat. Karena Engkau tak pernah berubah, aku bisa hidup tanpa takut. Aku tahu Engkau mengasihi anak-anakku; kumohon kasihilah mereka melalui aku.

Ketika aku merenungkan bagaimana Engkau datang ke dunia ini dan menjadi salah satu dari kami, dalam hidup-Mu, karya-Mu, Engkau memiliki beban yang harus Engkau pikul. Namun, Engkau tidak pernah terlalu sibuk untuk berbicara dengan seorang anak — dan Engkau tidak pernah terlalu sibuk untuk bersamaku.

Bolehkah aku katakan kepada mereka, “Ibu punya pekerjaan penting yang harus dilakukan. Jangan mengganggu Ibu,” dengan menyadari di dalam batin bahwa itu memang benar. Agar mereka bisa mengenal-Mu dengan melihatku? Tuhan seperti apakah yang mereka kenal?

Tinggallah dekat dengan mereka, Tuhan, seperti halnya Engkau dekat denganku. Dalam hal besar maupun kecil, aku ingin mereka tahu bahwa Engkau selalu ada dan bahwa Engkau mengerti. Aku tahu bahwa Engkau dekat dengan mereka; kumohon kasihilah mereka melalui aku.

Aku percaya akan firman-Mu bahwa Engkau akan memegangku erat; Genggamanku terlampau lemah jika dibandingkan dengan kekuatan-Mu. Aku menyadari bahwa bukan karena kuatku aku menang, tapi karena aku memercayai janji-Mu padaku.

Peganglah anak-anakku, Tuhan, seperti Engkau memegangku; Engkau tidak memintaku untuk berjanji, demikianlah yang kupercaya. Kabar baik yang telah Engkau berikan, janji yang telah Engkau buat, bahwa Engkau akan memegang anak-anakku, Tuhan, seperti Engkau memegangku.


Bapa di surga, Terima kasih untuk pekerjaan yang Kau berikan kepadaku.

Sungguh aku membutuhkan pekerjaan ini ya Tuhan.

Melalui pekerjaan ini aku dapat berkarya, menggunakan akal budi dan keahlian yang Kau berikan kepadaku untuk mendukung pengembangan perusahaan ini, dan berdaya guna bagi sesama.

Melalui pekerjaan ini juga aku memperoleh penghasilan yang dapat ku gunakan untuk memenuhi kebutuhan keluargaku.

Ya Tuhan,

Tolonglah aku Tuhan untuk setiap harinya dapat bekerja dengan baik, menyelesaikan setiap pekerjaan dengan penuh tanggung jawab dan selesai tepat pada waktunya.

Di dalam setiap kesulitan – kesulitan yang aku hadapi di dalam pekerjaan, tolong aku Tuhan untuk tetap dapat berpikir dengan tenang, dan menganggap setiap kesulitan sebagai tantangan untuk melangkah maju.

Aku mohon campur tangan-Mu Tuhan dalam segala hal yang kulakukan, karena aku tak dapat berjalan sendiri.

Engkaulah Pembimbingku, Engkaulah Penolongku yang selalu dapat kuandalkan.

Terima kasih Tuhan Yesus.

Di dalam nama-Mu aku berdoa.

Amin