Category: Humur Alkitab



Pasangan tua meinggal dalam kecelakaan dan menemukan diri mereka dalam tur ke surga oleh Santo Petrus. “Ini kondominium di pinggir laut untuk Anda, di sana ada lapangan tenis, kolam renang, dan dua lapangan golf. Jika Anda memerlukan makanan, tinggal berhenti di salah satu dari banyak bar di seluruh daerah ini…”

Tahun “Lihatlah, Gloria,” desis orang tua ketika Santo Petrus berjalan pergi, “kita seharusnya sudah bisa berada di sini sepuluh lalu, jika kamu tidak perlu mendengar dan peduli tentang semua yang bodoh tentang oat meal, gandum sehat, dan diet rendah lemak!”

Iklan

Seorang pendeta diminta untuk memberkati pernikahan seorang laki-laki yang sudah jompo dengan seorang wanita setengah baya. Sebelum acara dimulai, lelaki tua itu terlihat sangat cemas dan resah. Pak pendeta segera menghampirinya dan menanyakan beberapa hal.

“Apakah kamu mencintai calon istrimu?”

Pria tua itu menjawab, “Mungkin ….”

“Apa dia itu wanita Kristen yang baik?”

“Aku tidak begitu yakin,” jawab pria tua itu.

“Apa dia punya banyak uang?” tanya pendeta itu.

“Aku tidak tahu.”

“Lalu mengapa kamu menikahinya?” tanya pendeta itu.

“Karena dia bisa menyetir mobil di malam hari,” jawab pria tua itu.


Ali punya masalah dengan pernikahannya dan selalu mencoba mencari cara untuk melepaskan diri dari masalah tersebut.

Suatu hari Ali dan Baba sedang ngobrol. Baba menasihatinya, “Kamu harus tahu, tidak jarang Tuhan memakai isteri kita untuk menyampaikan kehendak-Nya.”

Dengan wajah setengah tidak terima dan setengah ingin tertawa Ali berkata, “Wow! Aku kok gak nyangka ya, Tuhan memakai bahasa seperti itu!”


Tiga orang anak remaja saling membanggakan bapaknya sambil menceriterakan bagaimana sang bapak masing-masing menghasilkan nafkah penghasilannya.

Anak 1: “Bapak saya hebat, akhli komputer, penghasilannya besar bila ia bekerja di depan komputernya selama satu jam ia akan memperoleh penghasilan sebesar Rp.50.000,-, itu paling kurang.”

Anak 2: “Kalah dong sama bapak saya. Bokap aku pengacara beken, dengan berbicara di pengadilan selama satu jam, maka ia akan memperoleh Rp.100.000,- paling sedikit.”

Anak 3: “Sudah deh, semuanya kalah sama bapak saya. Bapak saya kalau sudah berbicara di mimbar selama satu jam, paling tidak dibutuhkan sepuluh orang untuk mengumpulkan upahnya.”

(Dasar anak pendeta !)


Pendeta Andreas baru 3 bulan melayani di sebuah gereja. Pada suatu kebaktian Minggu, ia disodori daftar yang cukup panjang dari orang-orang yang sakit.

Ia merasa kesulitan menghafal. Selain karena panjangnya daftar, ia juga belum mengenal semua anggota jemaat.

Ia sudah berusaha mengingat sedemikian rupa daftar orang yang sakit, tetapi di tengah doa syafaatnya ia hanya ingat separuh dari daftar tersebut.

Maka ia mengatakan, “Tuhan kami juga mendoakan Saudara-Saudara lainnya yang sakit sesuai dengan daftar anggota jemaat yang sakit, yang disodorkan pada saya hari ini.”