Category: Humor Anak Medan



Liburan di kampung halaman rasanya membosankan, pikir Yodi. Akhirnya dia berkunjung ke tempat tulangnya di Medan.

Robet mengajak Yodi jalan-jalan ke Medan Plaza, di perjalanan menuju Medan plaza naik angkut 51 Robet kesal saking panasnya kota Medan.

Sambil mengipas-ngipas dadanya karena keringatan Robert mengucap….”Brengsek…panas benar..!!” Mendengar keluhan Robert, Yodi berkata “Bet, aku juga brengsek..!!”


Ganda merasa senang berkeliling-keliling kota Bandung. Sambil menaiki sebuah bis di samping kiri dan kanannya dia memberanikan diri untuk berkenalan dengan cewek sebelah kiri.

Ganda: “Perempuan apakah engkau ito?” (Batak: Boru aha do hamu ito)

Cewek: “Kau pikir aku cewek murahan ya..?”

Ganda: “Bukan, ito..saya mau bertanya marga apa ito?”

Cewek: “Dasar orang kampung!!”

Sampai di rumah Ganda menceritakan pengalamannya kepada tantenya Tiur. Tantenya terbahak-bahak. Ganda…Ganda. Tantenya menasihati Ganda sekali lagi jangan bertanya seperti itu.


Setelah menginjakkan kaki di kota Jakarta, Duga bermaksud mendapatkan teman sebanyak-banyaknya. Maklum Duga belum fasih berbahasa Indonesia.

Menurutnya semua perkataan dalam bahasa Batak harus diterjemahkan ke bahasa Indonesia termasuk identitas diri.

Sambil bersalaman lalu dia memperkenalkan diri dan berkata: “Gunung Seribu dari Seribu Gunung”. Sejak itu para sahabatnya pada takut dan segan, mereka menganggap Dolok Seribu bersaudara dengan gunung Kidul.


Setelah sehari Tagor Sitompul di kota kembang Bandung, dia sudah akrab dengan seseorang yang bernama Amit. Pada suatu hari ada undangan pernikahan dari teman Amit yang ditujukan untuk si Amit dan si Tagor Sitompul.

Mengingat bangku yang kosong hanya ada di depan, maka si Amit pun melewati para undangan dengan mengucapkan :

“Amit Pak…..Amit Bu……Amit Pak…… dst”,

namun si Tagor pun mencari akal melawati para undangan dengan mengucapkan :

“Tompul Pak…..Tompul Bu…..Tompul Pak…. dst”,

sampai dia duduk di kursi depan tanpa merasa bersalah.


Suatu hari, ada orang Batak yang sedang berwisata di kota Jakarta dan ia bermarga Manalu, saat menunggu taksi yang lewat iapun duduk untuk beristirahat.

Saat itu ia melihat ada taksi tak berpenumpang yang kebetulan lewat maka segera iapun menyetop taksi itu, dan saat diberhentikan sang supir taksi bertanya kepada si Batak ini. “Mana lu?” tanyanya sambil mengintip dari jendela (maksudnya kamu mau ke mana?), si Batak ini kaget dan bergumam “Bah, hebat kali supir taksi di Jakarta ini? Belum apa-apa sudah tahu namaku.”

Lalu ia bertanya lagi pada si supir taksi ini “Hei kau, kau paranormal ya?” Lalu supir taksi ini menjawab sambil nyeleneh dan pergi “Sinting.” Si Batak ini bergumam lagi “Bah, lebih hebat lagi supir taksi ini, dia tahu kemana tujuanku.

Aku kan mau pergi ke rumah temanku si Ginting.” Karena dari 5 taksi yang ia berhentikan mengatakan hal yang sama saja, si Batak ini frustasi dan akhirnya memutuskan untuk naik metro mini saja daripada repot-repot cari taksi.

Di dalam metro mini ia berkata dalam hati “Supir-supir taksi di Jakarta ini paranormal semua kelihatannya tetapi aneh, kok mereka tak mau kutumpangi ya? Padahal uangku cukup.”