Seorang pemuda yang sedang bersekolah di luar negeri sudah lama tidak memedulikan orangtuanya. Bahkan, ketika ibunya sakit atau ketika ayahnya stres berat, ia tidak menghubungi orangtuanya–meski saudara-saudaranya sudah mengingatkannya. Hingga suatu hari, pemuda tersebut mengalami masalah keuangan. Ia pun menelepon orangtuanya, merayu-rayu, kemudian meminta uang.

Kita semua tentu tidak mau punya anak yang bersikap demikian. Demikian juga Allah tidak mau umat-Nya bersikap demikian kepada-Nya. Dia sedih ketika umat-Nya mendekat kepada-Nya hanya ketika sedang membutuhkan pertolongan-Nya. Sementara ketika segala sesuatu berjalan baik, ketika berkat-berkat-Nya tercurah dengan melimpah, mereka melupakan Dia (ayat 32); mereka sibuk dengan segala kesenangan pribadi. Lebih dari itu, ketika akhirnya umat-Nya datang kepada Dia, mereka tidak mau mengakui bahwa selama ini mereka telah mendurhakai-Nya (ayat 29).

Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga terbiasa mendekat kepada-Nya hanya ketika kita memerlukan pertolongan-Nya? Ketika kita melupakan-Nya saat hidup berlangsung nyaman; dan hanya datang kepada-Nya ketika kita susah, sesungguhnya kita sedang melukai hati-Nya. Kita tidak bersikap sebagai umat yang menghargai Tuhan yang berkuasa dan terlibat dalam seluruh hidup kita. Kita tak menjadikan-Nya pusat hidup, di mana di luar Dia kita tak dapat berbuat apa-apa.

Maka, penting sekali kita sadar bahwa apa pun kondisi kita—susah senang, kita tetap melekat kepada-Nya; bersyukur atas setiap hal baik yang kita terima; pasrah meski tengah menderita.

MENDEKATLAH KEPADA TUHAN SETIAP SAAT

BUKAN HANYA KETIKA KITA BUTUH DIA MEMBERI BERKAT