Dalam tradisi Kristen, Mazmur 143 disebut sebagai mazmur pengakuan dosa (bersama dengan Mazmur 6, 32, 38, 51, 102, 130). Sebenarnya nada pengakuan dosa hanya terdapat pada ayat 2b, “sebab di antara yang hidup tidak seorang  pun yang benar di hadapan-Mu.” Selebihnya mazmur ini merupakan mazmur ratapan. Yang menarik juga adalah mazmur ini merupakan mazmur ratapan yang terakhir dari kumpulan 150 mazmur.

Apa sebenarnya yang menjadi pergumulan pemazmur? Ayat 3, 9, 12 menjelaskan bahwa pemazmur sedang  menghadapi musuh yang mengejar dirinya dan hendak membinasakan dia. Namun mazmur ini tidak menjelaskan siapa  musuh yang dia maksud. Pemazmur menaikkan doa permohonannya karena keadaannya yang sangat terjepit. Semangatnya sudah habis (4b, 7a) dan ia merasa ditinggalkan sendirian dalam keadaan hampir mati (7b).

Apa yang pemazmur minta dari Tuhan? Pemazmur memohon agar Tuhan mendengarkan seruannya karena ia percaya Tuhan adil dan setia (1, 8). Oleh karena itu pemazmur percaya bahwa demi keadilan-Nya, Tuhan pasti akan menyelamatkan dirinya dari para musuh, sebaliknya para musuhnya akan dibinasakan (12). Saat pemazmur mengingat  kembali karya Tuhan pada masa lampau. Ingatan ini menimbulkan keberanian untuk merindukan uluran tangan Tuhan pada saat ia mengalami kesesakan waktu itu (5-6). Pemazmur meminta agar Tuhan mengajar dirinya bagaimana hidup menurut petunjuk Tuhan supaya hidupnya berkenan kepada Tuhan (8b, 10-11).

Mazmur 143 merupakan doa orang beriman. Kita bisa menaikkan doa seperti ini saat tekanan melanda hidup. Siapa pun dan apa pun permasalahan kita, kita boleh percaya bahwa Tuhan pasti mendengar doa kita dan menjawab pada waktu-Nya. Hanya saja, kita perlu belajar mendekatkan diri kepada-Nya, mematuhi kehendak-Nya, serta menantikan jawaban Tuhan dengan tetap bertekun dalam doa.