Jika integritas tidak ada pada kita sewaktu kita bukan siapa-siapa, jangan mengharapkan integritas itu akan datang setelah kita jadi orang. Pemerintahan Raja Daud berada pada saat kritis. Sebuah visi tentang Kerajaan Israel bersatu telah nyata di depan mata. Penyatuan kekuasaan antara takhta Raja Daud dan takhta Raja Saul yang tengah dikuasai oleh Abner melalui raja-boneka Isyboset, tinggal menghitung hari. Namun ternyata tidak semua anggota tim inti Raja Daud memiliki kerohanian dan integritas seperti dia.

Yoab sebagai seorang berpangkat tinggi ternyata menunjukkan kekejian yang luar biasa. Ia menipu dan membunuh Abner, seorang jenderal yang memprakarsai penyatuan kedua takhta itu. Secara politis, mungkin Yoab khawatir dengan persaingan antara dirinya dengan Abner setelah kerajaan itu bersatu, karena Abner menguasai lebih banyak wilayah dan rakyat dibandingkan dirinya. Yoab juga punya dendam pribadi karena Abner telah membunuh adiknya, Asael. Padahal kalau dipikir-pikir, sebenarnya Yoab tidak mempunyai alasan apa pun untuk dendam terhadap Abner, karena Asael dibunuh di medan perang – itu pun setelah berulang kali Abner memperingatkan Asael, karena Abner merasa tidak enak hati terhadap Yoab (bdk. 2Sam. 2:23).

Tak urung kematian Abner membuat Raja Daud meratap tanpa malu-malu. Bahkan secara terbuka Daud menyatakan kutukan atas pembunuh Abner, walaupun Abner secara terbuka menentang dia hampir seumur hidupnya. Daud menyadari bahwa Tuhanlah yang berkuasa, Tuhanlah yang Empunya takhta yang saat itu dipercayakan kepada Daud.

Dari Daud dan Yoab kita belajar bahwa kedudukan tinggi bisa memberikan kehormatan, tetapi tidak bisa memberikan kepribadian yang mulia. Kepribadian mulia, yang seturut dengan kehendak Allah, harus kita pupuk dengan hati yang tulus dan terbuka di hadapan Allah, membiarkan Allah membentuk kita melalui pengenalan firman-Nya, persekutuan dengan umat-Nya, dan pengalaman-pengalaman hidup kita.