Archive for 12 September 2010


Humor


Hari Terakhir

Halloo …!!
Ribut dengan pasangan?? Itu sih biasa … tapi jangan sampai mogok
bicara…. soalnya bisa keterusan lho!

HARI TERAKHIR
=============

“Hai! Ada apa denganmu, engkau kelihatan begitu stress dan frustasi?”

“Aku sedang ada masalah dengan istriku.”

“Masalah apa sih, boleh tahu?”

“Dia bilang selama tiga puluh hari dia tidak akan mau berbicara
sepatah kata pun kepadaku.”

“Lho malah seharusnya engkau bahagia, bukan? Karena hidupmu akan
tenang selama itu.”

“Iya … memang aku sangat bahagia dan mendukung keputusannya itu,
tapi hari ini adalah hari yang ketiga puluh.”

———————————————————————



Dalam tradisi Kristen, Mazmur 143 disebut sebagai mazmur pengakuan dosa (bersama dengan Mazmur 6, 32, 38, 51, 102, 130). Sebenarnya nada pengakuan dosa hanya terdapat pada ayat 2b, “sebab di antara yang hidup tidak seorang  pun yang benar di hadapan-Mu.” Selebihnya mazmur ini merupakan mazmur ratapan. Yang menarik juga adalah mazmur ini merupakan mazmur ratapan yang terakhir dari kumpulan 150 mazmur.

Apa sebenarnya yang menjadi pergumulan pemazmur? Ayat 3, 9, 12 menjelaskan bahwa pemazmur sedang  menghadapi musuh yang mengejar dirinya dan hendak membinasakan dia. Namun mazmur ini tidak menjelaskan siapa  musuh yang dia maksud. Pemazmur menaikkan doa permohonannya karena keadaannya yang sangat terjepit. Semangatnya sudah habis (4b, 7a) dan ia merasa ditinggalkan sendirian dalam keadaan hampir mati (7b).

Apa yang pemazmur minta dari Tuhan? Pemazmur memohon agar Tuhan mendengarkan seruannya karena ia percaya Tuhan adil dan setia (1, 8). Oleh karena itu pemazmur percaya bahwa demi keadilan-Nya, Tuhan pasti akan menyelamatkan dirinya dari para musuh, sebaliknya para musuhnya akan dibinasakan (12). Saat pemazmur mengingat  kembali karya Tuhan pada masa lampau. Ingatan ini menimbulkan keberanian untuk merindukan uluran tangan Tuhan pada saat ia mengalami kesesakan waktu itu (5-6). Pemazmur meminta agar Tuhan mengajar dirinya bagaimana hidup menurut petunjuk Tuhan supaya hidupnya berkenan kepada Tuhan (8b, 10-11).

Mazmur 143 merupakan doa orang beriman. Kita bisa menaikkan doa seperti ini saat tekanan melanda hidup. Siapa pun dan apa pun permasalahan kita, kita boleh percaya bahwa Tuhan pasti mendengar doa kita dan menjawab pada waktu-Nya. Hanya saja, kita perlu belajar mendekatkan diri kepada-Nya, mematuhi kehendak-Nya, serta menantikan jawaban Tuhan dengan tetap bertekun dalam doa.


Dear all,
Astagggaaa … salah siapa kalau sudah begini …. ???

TEST PEMAHAMAN ALKITAB
======================

Suatu sekolah bermaksud menguji sinyalemen bahwa pengetahuan Alkitab
anak-anak muda sekarang sangat kurang. Untuk itu dibuatlah suatu test
bagi siswa-siswi sekolah itu.

Salah satu pertanyaan adalah, “Siapakah tokoh yang ditelan ikan paus
dan hidup selama beberapa hari di perutnya?”

Dan kebanyakan jawabnya adalah … Pinokio!!!

———————————————————————
“Sebab kita, anak-anak kemarin, tidak mengetahui apa-apa;
karena hari-hari kita seperti bayang-bayang di bumi.” (Ayub 8:9)
——————————-


Jika integritas tidak ada pada kita sewaktu kita bukan siapa-siapa, jangan mengharapkan integritas itu akan datang setelah kita jadi orang. Pemerintahan Raja Daud berada pada saat kritis. Sebuah visi tentang Kerajaan Israel bersatu telah nyata di depan mata. Penyatuan kekuasaan antara takhta Raja Daud dan takhta Raja Saul yang tengah dikuasai oleh Abner melalui raja-boneka Isyboset, tinggal menghitung hari. Namun ternyata tidak semua anggota tim inti Raja Daud memiliki kerohanian dan integritas seperti dia.

Yoab sebagai seorang berpangkat tinggi ternyata menunjukkan kekejian yang luar biasa. Ia menipu dan membunuh Abner, seorang jenderal yang memprakarsai penyatuan kedua takhta itu. Secara politis, mungkin Yoab khawatir dengan persaingan antara dirinya dengan Abner setelah kerajaan itu bersatu, karena Abner menguasai lebih banyak wilayah dan rakyat dibandingkan dirinya. Yoab juga punya dendam pribadi karena Abner telah membunuh adiknya, Asael. Padahal kalau dipikir-pikir, sebenarnya Yoab tidak mempunyai alasan apa pun untuk dendam terhadap Abner, karena Asael dibunuh di medan perang – itu pun setelah berulang kali Abner memperingatkan Asael, karena Abner merasa tidak enak hati terhadap Yoab (bdk. 2Sam. 2:23).

Tak urung kematian Abner membuat Raja Daud meratap tanpa malu-malu. Bahkan secara terbuka Daud menyatakan kutukan atas pembunuh Abner, walaupun Abner secara terbuka menentang dia hampir seumur hidupnya. Daud menyadari bahwa Tuhanlah yang berkuasa, Tuhanlah yang Empunya takhta yang saat itu dipercayakan kepada Daud.

Dari Daud dan Yoab kita belajar bahwa kedudukan tinggi bisa memberikan kehormatan, tetapi tidak bisa memberikan kepribadian yang mulia. Kepribadian mulia, yang seturut dengan kehendak Allah, harus kita pupuk dengan hati yang tulus dan terbuka di hadapan Allah, membiarkan Allah membentuk kita melalui pengenalan firman-Nya, persekutuan dengan umat-Nya, dan pengalaman-pengalaman hidup kita.


Tuhan yang menghitung, bukan kita!


– Diambil dari Renungan Gereja Kristen Yesus Jemaat Green Ville

Kaleb telah melayani TUHAN dengan mengabdikan hidupnya sampai tua. Dedikasi Kaleb tidak perlu diragukan. Kesungguhan hati mengikut dan melayani Tuhan berbuah manis dalam hidup Kaleb, yaitu ia memiliki Hebron sebagai tanah miliknya dan keturunannya.

Sebagai sesama pengintai pada zaman Musa, Yosua pasti amat mengenal dedikasi Kaleb. Kaleb tidak pernah setengah hati melayani Tuhan, tetapi seperti yang disaksikannya, “Aku tetap mengikuti TUHAN, Allahku, dengan sepenuh hati” (14:8, 9, 14). Pengulangan perkataan di atas sampai 3 kali menekankan kesungguhan kesaksian Kaleb. Ia tidak pernah menganggap dirinya lebih hebat, lebih berjasa, lebih mampu, lebih senior daripada orang lain. Permohonan Kaleb hanyalah supaya ia dapat menempati daerah Hebron sebagai daerah tempat kediamannya kelak di hari tua. Dalam Bilangan 14:24, TUHAN berkata tentang Kaleb, “lain jiwa yang ada padanya dan ia mengikut Aku dengan sepenuhnya,” maka Tuhan menjanjikan tanah Hebron menjadi miliknya ketika mereka sudah sampai di Kanaan.

Melayani Tuhan janganlah berlandaskan motivasi ingin memperoleh berkat. Berkat apa pun yang diberikan kepada kita adalah hak Tuhan sendiri. Tuhanlah yang berhitung ketika melihat apa yang kita kerjakan serta mempertimbangkan “upah” yang pantas untuk kita. Kita tidak berhak menuntut apa yang kita inginkan setelah melayani dan mempersembahkan hidup kepada Tuhan, karena seharusnya tujuan hidup kita hanyalah untuk kemuliaan-Nya. Tuhan menuntut kesetiaan sepenuh hati. Kesetiaan sepenuh hati selalu menuntut pengorbanan yang besar. Siapkah kita menyerahkan diri dan berkorban demi mewujudkan kesetiaan yang sepenuh hati pada Tuhan, sehingga Tuhan sendiri menghitung apa yang layak kita terima! [FW]

Yosua 14:14
“Itulah sebabnya Hebron menjadi milik pusaka Kaleb bin Yefune, orang Kenas itu, sampai sekarang ini, karena ia tetap mengikuti TUHAN, Allah Israel, dengan sepenuh hati. ”